jump to navigation

Budi Daya Jamur di Desa Wadungasih, Buduran – Sidoarjo 4 Oktober 2010

Posted by admin in Upik.
1 comment so far

Dulu Sambilan, Kini Jadi Mata Pencaharian

Budi daya jamur bukan hal baru di Indonesia. Namun, keberhasilan budi daya tanaman tersebut belum tentu terjadi di semua tempat. Sidoarjo mampu membuat kampung jamur yang dikembangkan warga lokal.

Rak setinggi 2 meter berjajar di sebuah bangunan samping rumah Sunarto di Desa Wadungasih, Kecamatan Buduran, Sidoarjo. Lemari kayu terbuka itu diisi ratusan plastik. Di bagian ujungnya, muncul jamur. Ada yang kecil, banyak juga yang besar.

Wadungasih adalah sentra petani jamur yang sedang dikembangkan. Desa tersebut berada 3 kilometer ke arah utara dari pusat kota. Tidak sulit menemukannya. Selain lumayan populer, jumlah budi daya jamur di sana belum tertandingi, khususnya di Sidoarjo dan Surabaya.

Tempatnya pun cukup strategis. Dari Jalan Raya Buduran, masuk ke arah timur sekitar 500 meter. Jalan menuju tempat tersebut cukup mulus dan lebar. Membawa kendaraan roda empat bukan hal sulit.

Munculnya sentra petani jamur di Wadungasih sebenarnya bukan hal yang disengaja. Pada pertengahan 2004, pengangguran mengancam daerah yang mayoritas bermata pencaharian petani tersebut.

Saat itu, lahan pertanian nyaris habis sehingga tenaga yang selama ini terserap tidak terpakai. Bahkan, sebagian warga lainnya di-PHK oleh beberapa pabrik tempat mereka mengadu nasib. Walhasil, banyak penduduk yang kehilangan pekerjaan. “Kami bingung mencari alternatif usaha yang tidak membutuhkan modal banyak, tapi menghasilkan,” kata Camat Buduran Basuki Sugiarto.

Suatu saat pada 2009 atau beberapa hari setelah dilantik, ayah dua anak itu keliling kampung dan menemukan warga bernama Sunarto yang bertani jamur. Setelah berbincang beberapa saat, pria kelahiran Sidoarjo tersebut melihat bahwa budi daya tanaman itu cukup menjanjikan. Akhirnya, dia menggandeng pendatang tersebut untuk mengembangkannya.

Dengan modal pas-pasan dan swadaya masyarakat, Sunarto berhasil mengajak tiga tetangga lainnya. Dari sana, hasil pertanian jamur lumayan banyak. Budi daya jamur asal Wadungasih pun mulai dikenal. Bukan hanya di Sidoarjo, tapi juga luar kota. Pesanan membanjir.

Karena terbatasnya pembudidayaan tanaman itu, tidak semua permintaan bisa dilayani. Banyak konsumen yang lari karena tidak sabar antre menunggu hasil produksi. Akhirnya, pesanan semakin menurun, tidak sebanyak sebelumnya. Melihat peluang usaha yang prospektif tersebut, warga yang bergabung semakin banyak.

Saat ini, petani di Wadungasih berjumlah 34 warga. Budi daya itu menjalar ke desa lainnya. Misalnya, Siwalanpanji (2 usaha), Prasung (1 usaha), Sidokepung (2 usaha), dan Sidokerto (2 usaha). Rata-rata budi daya tersebut dikerjakan oleh ibu rumah tangga. “Caranya mudah, bahan baku tersedia, konsumen pun meminta,” kata mantan camat Wonoayu itu.

Permintaan pasar pun kembali mengalir. Tengkulak dari dalam maupun luar Sidoarjo berdatangan. Supermarket besar pun minta disediakan dalam jumlah tertentu setiap hari. Terbaru, ada yang mau teken kontrak agar bisa membeli seratus kilogram per hari.

Sementara itu, Kepala Bagian Perekonomian Pemkab Sidoarjo Fenny Apridawati menjelaskan, budi daya jamur di Desa Wadungasih tersebut patut ditiru. Sebab, usaha itu bisa meningkatkan perekonomian masyarakat. Saat ini, yang menjadi kesulitan petani adalah mengembangkan budi daya jamur jenis lainnya. Misalnya, jamur kuping atau jamur kancing.

Mudah Dikembangkan, Hasil Menguntungkan

Mencoba budi daya jamur tiram tidaklah sulit. Bahkan, Anda tidak harus meninggalkan pekerjaan utama. Hasil yang didapatkan juga cukup menggiurkan. Hal itu dibuktikan Sunarto.

Sejak 2004 dia membudidayakan jamur tiram. Awalnya Sunarto terdesak untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Meski sudah memiliki pekerjaan tetap, dia ingin mendapatkan penghasilan sampingan.

Tapi, karena saat itu sedang ramai flu burung, dia tidak bisa membuka usaha peternakan unggas. Akhirnya dia belajar budi daya jamur secara otodidak. ”Saya belajar dari buku,” ujar bapak dua anak tersebut.

Ketekunan Sunarto membuahkan hasil. Selang beberapa bulan, prospek usahanya mulai terlihat. Dia tidak hanya berhasil menjual jamur mentah, tapi juga melakukan pembibitan sendiri. Saat ini dialah yang menyuplai bibit jamur di Desa Wadungasih.

Kemampuannya membuat bibit itu ditularkan kepada adiknya di Kediri. ”Jadi, kalau ada yang pesan bibit, saya ambilkan di Kediri,” ujarnya.

Saat ini satu log (satu kantong plastik) serbuk kayu yang berisi bibit jamur tiram berharga Rp 2.500. Per bulan Sunarto bisa menerima pesanan 3-5 ribu log. Artinya, penjualan bibit itu per bulan mencapai Rp 7,5 juta-Rp 12,5 juta. Tentu saja nominal tersebut belum dikurangi ongkos pembibitan.

Sementara itu, seribu log bisa menghasilkan 5-8 kg jamur tiram setiap panen. Masa panen jamur tiram 2-6 bulan. Itu bergantung pada peletakannya.

Ketua Koordinator Petani Jamur Wadungasih itu menjelaskan, usaha jamur tersebut memang sangat menjanjikan. Baik untuk usaha sampingan maupun usaha utama bagi mereka yang terkena PHK. Yang dibutuhkan hanya lahan dan modal awal. Diperkirakan, dalam 4-5 kali panen modal sudah balik. Sisanya tinggal memanen keuntungan saja.

Bisa Diolah Menjadi Aneka Masakan

Bisnis jamur tiram memang menjanjikan. Selain jamur mentah dan bibit, penjualan masakan olahan jamur juga menjanjikan. Jamur yang terkenal dengan kelezatannya itu bisa diolah menjadi aneka masakan. Sekilas, rasanya mirip dengan daging ayam. Jamur sangat disukai vegetarian. ”Vegetarian menjadikan jamur sebagai pengganti daging,” ujar Wiwik Ekowati.

Salah satu olahan jamur yang sering terlihat adalah jamur crispy. Olahan jamur yang satu itu bisa dijumpai di berbagai sudut jalan maupun mal. Jamur tiram juga bisa diolah menjadi masakan lain. Misalnya, jamur saus tiram, campuran otak-otak bandeng, sup jamur, oseng-oseng, dan dodol.

”Saya baru mencoba membuat dodol dari jamur. Rasanya tidak kalah enak jika dibandingkan dengan dodol biasa,” ujarnya. Jamur dicampur dengan sedikit tepung. Menjual olahan jamur tiram bisa menghasilkan keuntungan yang cukup besar. Misalnya, jamur crispy. Satu kilogram berisi cukup banyak jamur tiram segar, kira-kira dua kantong ukuran satu kilogram. Harga satu kilogram jamur tiram adalah Rp 12.500-Rp 13.000. Ketika sudah menjadi jamur crispy, satu kotak kecil dihargai minimal Rp 5.000. Tentu banyak keuntungan yang bisa diraih.

Gimana, anda tertarik peluang usaha ini?

(Sumber : Koran Jawa Pos “eko/sha/c6/mik”)

dimuat juga di : http://dprd-sidoarjokab.go.id/budi-daya-jamur-di-desa-wadungasih-buduran-lahan-baru.html

Jamur Tiram 4 Oktober 2010

Posted by admin in Upik.
add a comment

Selalu saja yang menjadi pertanyaan, berapa kg jamur yang dapat dipanen dalam satu baglog jamur tiram putih?

Pertanyaan ini sulit untuk dijawab dengan pasti, karena banyak faktor yang mempengaruhi kualitas dari baglog jamur tiram putih. Kualitas baglog dalam hal ini adalah kuantitas jamur yang dapat dipanen dari baglog itu.

Sepanjang pengetahuan kami, ada beberapa faktor yang mempengaruhi, antara lain:


1. Kadar atau nutrisi baglog

Banyak sekali referensi mengenai kandungan nutrisi yang dicampurkan dalam serbuk gergaji. Yang sering kami gunakan adalah :

100 kg serbuk gergaji

10kg – 20kg bekatul

1kg calsium carbonate

1kg gula
Penggunaan nutrisi ini juga masih bisa dimodifikasi dengan menggunakan tepung jagung, kedelai, singkong, dan sebagainya.

Mengenai jumlah prosentasenya juga beragam. Tetapi memang menurut FAO jumlah kadar 20% adalah kadar maksimal tetapi beresiko tinggi terhadap kontaminasi jika proses sterilisasinya kurang panas.
Fungsi bekatul / tepung jagung yang kami amati adalah untuk pertumbuhan miselium awalnya. Jika kualitas bekatul baik (kandungan beras berbanding sekam tinggi) tampak miselium putih sempurna dan memanjang dengan cepat.

Jika kandungan nutrisi kurang atau kualitas nutrisi tidak baik, pertumbuhan miselium cenderung lambat, dan tidak putih sempurna (walau akhirnya putih juga sih..). Kami sendiri pernah mengalami pengalaman buruk, ketika membeli bekatul tidak memeriksa dulu, ternyata kualitasnya jelek, kandungan sekamnya tinggi beras sedikit, akhirnya kualitas baglog pun jadi jelek, miselium tumbuh lambat, bahkan banyak yang mati..
lha gimana nggak.. akhirnya kandungan cuma serbuk gergaji dan sekam karena kadar berasnya dikit..

Nah.. pertumbuhan miselium yang baik akan berpengaruh terhadap produksi jamur nantinya..


2. Kualitas bibit (F2)

Untuk menyamakan persepsi kami menyebut PDA dengan F0, kemudian turunannya pada media jagung adalah F1, kemudian turunannya dengan media gergajian adalah F2.

Campuran F2 yang biasa kami gunakan adalah perbandingan 1 jagung 2 bekatul 3 gergajian. Bekatul yang kami gunakan pun yang harga tinggi (kandungan beras tinggi harga 2200 /kg).

Dalam pembuatan bibit, kami bilang kalau dengan media jagung, itu berarti media “murni” jika sudah ada gergajian, maka itu adalah media campuran.
Penggunaan jagung inilah yang memacu pertumbuhan miselium dengan cepat. Ini tampak jika kita memainkan kadar jagung. Pertumbuhan miselium teramati cepatnya pada kadar ini..

Kualitas bibit F2 yang ditanamkan ke baglog akan teramati jika baik, maka akan cepat memutih, selanjutnya pertumbuhan miselium pun akan cepat


3. Jenis serbuk kayu yang digunakan

Untuk budidaya, bisa menggunakan kayu sengon laut, mahoni, mindi, kayu nangka, kayu kembang, kayu albasiah, kayu meranti dan sebagainya. POKONYA BUKAN KAYU CEMARA, DAMAR, PINUS.

Nah.. pemilihan jenis kayu ini pengaruhnya pada berat jenisnya. Disarankan menggunakan kayu yang tidak mudah lapuk (kayu randu bisa digunakan tapi mudah lapuk, akhirnya jamur yang dihasilkan sedikit).

Jenis kayu yang lebih keras tentunya akan menghasilkan jamur lebih banyak. Tetapi di sini sulitnya, pebudidaya tidak selalu mendapatkan jenis serbuk gergaji yang homogen, seringnya campuran.
Ini pengalaman aja yaa..:

  • Ketika menggunakan kayu sengon laut, kami pernah mendapat 390gram /baglog untuk ukuran baglog rata-rata 1,4 kg an.
  • Ketika menggunakan kayu mahoni, kami pernah mendapat 450gram /baglog untuk ukuran balgog rata-rata 1,4kg an juga.

Padahal kualitas campuran nutrisi sama percis.., akhirnya kami berkesimpulan, tidak bisa menjastifikasi kualitas baglog dari satu faktor saja.. faktor pemilihan jenis serbuk gergajian kayu yang digunakan juga berpengaruh besar..

4. Kadar air dalam baglog
Kandungan kadar air dalam baglog menurut teori adalah 65%-75%. Pengukuran kadar air ini sulit dilakukan, biasanya hanyalah berdasarkan perasaan atau pengalaman saja. Indikasinya jika digenggam menggumpal tetapi tidak terlalu basah, itulah kadar air optimalnya.. lha tapi sulit sekali menganalisa kalau hanya berdasarkan ini..
Kadar air dalam baglog ini sangat berpengaruh dalam pertumbuhan jamur tiram nantinya. Jika kadar air kurang, maka pertumbuhan jamur tiram tidak akan bisa optimal.
Tetapi jika kadar air berlebih, baglog akan cepat membusuk, bahkan timbul ulat. Bahkan lagi bisa menghambat pertumbuhan miselia.
Jadi kadar air harus pas dan optimal. TErkadang untuk mengejar bobot, kadar air ditambah, ini juga malah tidak baik bagi kualitas baglog itu sendiri.

5. Berat baglog atau volume baglog
Produksi jamur tiram nantinya akan tergantung pada kuantitas/volume serbuk gergaji dalam baglog. Karena jamur adalah saprofit yang memakan sisa tumbuhan yang telah mati. Jadi semakin banyak volume atau bobot serbuk gergaji yang ada di dalam baglog, semakin banyak pula kemungkinan jamur yang dapat dipanen nantinya. Hal ini berhubungan langsung dengan BER (biological efficiency ratio) nya. Itulah sebabnya jika menggunakan plastik 18×35, untuk mengejar volume yang banyak, akhirnya diperlukan mesin atau alat pemadat, agar jumlah serbuk gergaji dapat tertampung lebih banyak.
Jika tidak, memang disarankan menggunakan plastik yang lebih besar, hingga bobot dan volume baglog bisa lebih banyak..
Artinya.., InsyaALLAH jika biaya yang dikeluarkan sama, menggunakan kadar bekatul 12% pada serbuk gergaji yang dimasukkan ke dalam baglog besar ukuran 2kg, hasilnya lebih banyak dibandingkan menggunakan kadar bekatul 20% tetapi pada baglog ukuran 1,5kg saja.
Kadar bekatul nantinya hanya berpengaruh pada pertumbuhan miselium, tetapi pada pertumbuhan jamur, volume dan bobot serbuk gergaji yang mempengaruhi.

6. Perawatan baglog pada masa produksi
Kalau ini kami sarankan membaca-baca artikel kami tentang tatacara perawatan baglog jamur tiram putih.
Perawatan/care yang diberikan petani pada kumbungnya, pada baglog jamurnya sangat berpengaruh pada kuantitas hasil panen jamur. Perawatan yang optimal, mengawasi, membersihakan, mengatur sirkulasi, tentunya akan menghasilkan jamur lebih daripada yang hanya sekedar ditaruh saja dan mengharapkan hasil panen yang optimal.

Sumber : http://jamursekolahdolan.blogspot.com/

Gambar : acehmarket.blogspot.com

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.