jump to navigation

Minal ‘aidin wal faizin 9 September 2010

Posted by admin in Kang Tik.
trackback

Hanya sekedar sharing ….

Rasulullah biasa mengucapkan taqabbalallahu minna wa minkum kepada para

sahabat, yang artinya semoga Allah menerima aku dan kalian. Maksudnya menerima

di sini adalah menerima segala amal dan ibadah kita di bulan Ramadhan.

Beberapa shahabat menambahkan ucapan shiyamana wa shiyamakum, yang artinya

puasaku dan puasa kalian. Jadi ucapan ini bukan dari Rasulullah, melainkan dari

para sahabat.

Kemudian, untuk ucapan minal ‘aidin wal faizin itu sendiri tidak pernah

dicontohkan, sepertinya itu budaya orang Indonesia. Yang sering salah kaprah

adalah ucapan tersebut biasanya diikuti dengan “mohon maaf lahir dan batin”.

Jadi seolah-olah minal ‘aidin wal faizin itu artinya mohon maaf lahir dan

batin. Padahal arti sesungguhnya bukan itu. Minal ‘aidin artinya dari golongan

yang kembali. Dan wal faizin artinya dari golongan yang menang. Jadi makna

ucapan itu adalah semoga kita termasuk golongan yang kembali (maksudnya kembali

pada fitrah) dan semoga kita termasuk golongan yang meraih kemenangan.

Manakah diantara kalimat-kalimat di bawah ini yang benar?

A.Minal ‘aidin wal faizin, mohon maaf lahir-bathin

B.Mohon maaf lahir-bathin, minal ‘aidin wal faizin

C.Semoga kita dimaafkan minal ‘aidin wal faizin

D.Semoga kita minal ‘aidin wal faizin

E.Semua benar

Kalau kita tadi menyoal tentang asal kata Ied (masdar atau kata dasar dari

‘aada=kembali) , sekarang kita mencoba untuk membongkar asal kata ‘Aidin dan

Faizin. Darimana sih mereka?

‘Aidin itu isim fa’il (pelaku) dari ‘aada. Kalau anda memukul (kata kerja),

pasti ada proses “pemukulan” (masdar), juga ada “yang memukul” (anda

pelakunya). Kalau kamu “pulang” (kata kerja), berarti kamu “yang pulang”

(pelaku). Pelaku dari kata kerja inilah yang dalam bahasa Arab disebut

d engan isim fa’il.

Kalau si Aidin, darimana? ‘Aidin atau ‘Aidun itu bentuk jamak (plural) dari

‘aid, yang artinya “yang kembali” (isim fa’il. Baca lagi teori di atas).

Mungkin maksudnya adalah “kembali kepada fitrah” (“kembali berbuka”, pen)

setelah berjuang dan mujahadah selama sebulan penuh menjalankan puasa.

‘aada = ia telah kembali (fi’il madhi).

Ya’uudu = ia tengah kembali (fi’il mudhori)

‘audat = kembali (kata dasar)

‘ud = kembali kau! (fi’il amr/kata perintah)

‘aid = ia yang kembali (isim fa’il).

Kalau si Faizin?

Si Faizin juga sama. Dia isim fa’il dari faaza (past tense) yang artinya

“sang pemenang”. Urutannya seperti ini:

Faaza = ia [telah] menang (past tense)

Yafuuzu = ia [sedang] menang (present tense)

Fauzan = menang (kata dasar).

Fuz = menanglah (fi’il amr/kata perintah)

Fa’iz = yang menang.

‘Aid (yang kembali) dan Fa’iz (yang menang) bisa dijamakkan menjadi ‘Aidun

dan Fa’izun. Karena didah ului “Min” huruf jar, maka Aidun dan Faizun

menyelaraskan diri menjadi “Aidin” dan “Faizin”. Sehingga lengkapnya “Min

Al ‘Aidin wa Al Faizin”. Biar lebih mudah membacanya, kita biasa menulis

dengan “Minal Aidin wal Faizin”.

Lalu mengapa harus diawali dengan “min”?

“Min” artinya “dari”. Sebagaimana kita ketahui, kata “min” (dari) biasa

digunakan untuk menunjukkan kata keterangan waktu dan tempat. Misalnya

‘dari’ zuhur hingga ashar. Atau ‘dari’ Cengkareng sampe Cimone.

Selain berarti “dari”, Min juga mengandung arti lain. Syekh Ibnu Malik dari

Spanyol, dalam syairnya menjelaskan:

Ba’id wa bayyin wabtadi fil amkinah

Bi MIN wa qad ta’ti li bad’il azminah

Maknailah dengan “sebagian”, kata penjelas dan permulaan tempat-

-Dengan MIN. Kadang ia untuk menunjukkan permulaan waktu.

Dari keterangan Ibnu Malik ini, kita bisa mendapatkan gambaran bahwa MIN

pada MIN-al aidin wal faizin tadi menunjukkan kata “sebagian”

(lit-tab’idh ) . Jadi secara harfiyah, minal ‘aidin wal-faizin artinya:

BAGIAN DARI ORANG-ORANG YANG KEMBALI DAN ORANG-ORANG YANG MENANG.

Kesimpulannya?

Yang jelas Minal Aidin tidak ada hubungannya dengan Mohon maaf lahir dan

bathin. Menggunakan kalimat a, boleh. Memakai kalimat b, silakan saja. Tapi

sekali lagi, mohon maaf lahir bathin itu bukan arti minal aidin. Asal

jangan memilih c, karena minal aidin tidak pernah bisa memaafkan orang.

Tapi pilihan saya adalah d, ini yang paling shahih.

Akhirnya, semoga kita minal ‘aidin wal faizin. Amin!

Sharing untuk yang belum tahu… Semoga bermanfaat🙂

–~–~———~–~—-~————~——-~–~—-~

Arsip Milis : http://www.mail-archive.com/pirus@googlegroups.com

Album Foto : http://pirus.fotopic.net

MultiplyWeb : http://www.pirusers.multiply.com

Friendster : http://www.friendster.com/9379274

Administrator email : [EMAIL PROTECTED]

-~———-~—-~—-~—-~——~—-~——~–~—

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: